Latest News

Friday, October 30, 2015

Wisata Sejarah di Kawasan Wisata Cangkuang Garut

Candi Cangkuang



Halo Sobat Traveler..
Kali ini kami akan berbagi kisah seru kami trip ala backpacker ke Garut dan Tasikmalaya. Tak ketinggalan akan kami informasikan detai transportasi dan biayanya. Oke mari disimak ya..hehee..

Seperti biasa, kami mulai perjalanan dari Grogol. Kami berangkat naik Busway dari Halte Sumber Waras. Tujuan kami adalah menuju pull agen Bis Primajasa, bis yang akan kami tumpangi menuju Garut. Dari halte sumberwaras, transit dulu di halte Harmoni berganti bis jurusan Harmoni-PGC. Lokasi agen bis Primajasa berada di dekat BKN jadi kami turun di Halte BKN (Halte sebelum PGC). Seperti biasa ongkos busway ini blom naik, masih 3500/org. Keluar dari halte BKN lalu belok kanan karena letakny berada disisi kanan jalan. Dari halte BKN tidak terlalu jauh, sekitar 200m. Di agen Primajasa tersebut banyak sekali bis yang jurusan ke Garut dan Tasikmalaya jadi tidak perlu takut ketinggalan bis. Kami langsung saja menaiki bis jurusan Garut, ongkosnya sendiri 52.000/org. Perjalanan cukup lama, kurang lebih 4jam jadi bisa dipakai untuk tidur. Kebetulan saat itu keadaan jalanan tidak begitu macet.

Candi Cangkuang terletak di Kampung Pulo, Desa Cangkuang , Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Desa Cangkuang dikelilingi oleh empat gunung besar di Jawa Barat, yang antara lain Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur.Cagar budaya Cangkuang terletak di sebuah daratan di tengah danau kecil (dalam bahasa Sunda disebut situ), sehingga untuk mencapai tempat tersebut orang harus menggunakan rakit. Selain candi, di pulau itu juga terdapat pemukiman adat Kampung Pulo, yang juga menjadi bagian dari kawasan cagar budaya. Jadi kami turun di Alun-alun kecamatan Leles. Kecamatan Leles ini lokasinya bukan berada di pusat kota, jadi ketika bis memasuki daerah Kadungora Garut segeralah memberi tahu kepada kernet bis minta turun di Alun-alun Leles. Jangan sampai kejadian kami berdua terulang oleh sobat traveler. Yup kami kebablasan beberapa meter dari Alun-alun Leles, untungnya ada seorang pelajar yang memberitahu kami..hehee. Intinya sih klo belum tau atau belum pernah ke suatu tempat, lebih baik bertanya.


Alun-alun Leles
Alun-alun Leles
Dari alun-alun Leles ini kami berganti angkutan. Ada 2 alternatif angkutan menuju cangkuang, pertama adalah delman dan yang kedua adalah ojek. Kami memilih ojek. Sebenarnya terpaksa sih naik ojek, karena kami kira tidak ada delman. Pada saat itu tukang ojeknya menawarkan langsung menuju lokasi Kampung Pulo jadi tidak perlu menyebrang Situ. Ongkosnya jadi lebih mahal, yakni 20000. Lokasi cangkuang ini ada beberapa lokasi wisata lokasinya yakni SItu Cangkuang, Candi Cangkuang, Museum candi Cangkuang dan Kampung Pulo. Untuk menuju lokasinya ini ada 2 jalan, yakni lewat depan maksudnya lewat pintu utama apabila mau ke candi cangkuang harus nyebrang Situ. Jalan yang kedua lewat belakang jadi sobat traveler diantar sampai depan pintu gerbang kampung pulo tanpa nyebrang Situ Cangkuang. Perjalanan kurang lebih 10 menit dari alun-alun Leles.

Pintu Gerbang Kampung Pulo
 Kami diberhentikan tepat di depan pintu gerbang Kampung Pulo. Kampung Pulo merupakan sebuah kampung kecil, terdiri dari enam buah rumah dan enam kepala keluarga. Sudah menjadi ketentuan adat bahwa jumlah rumah dan kepala keluarga itu harus enam orang dengan susunan tiga rumah disebelah kiri dan tiga rumah disebelah kanan yang saling berhadapan ditambah satu masjid sebagai tempat ibadah.
Oleh sebab itu kedua deretan rumah tersebut tidak boleh ditambah ataupun dikurangi.
Jika seorang anak sudah dewasa kemudian nikah maka paling lambat dua minggu setelah pernikahan harus meninggalkan rumah tempat asalnya, keluar dari lingkungan keenam rumah adat tersebut. Dia bisa kembali keasalnya bila salah satu keluarga meninggal dunia dengan syarat harus anak wanita dan ditentukan atas pemilihan keluarga setempat.

Papan Nama Kampung Pulo
Kampung Pulo
Kampung Pulo

Kampung Pulo


Rumah Adat Kampung Pulo


Papan Nama Kampung Pulo
Papan Nama Kampung Pulo



Lanjut setelah puas berfoto-foto, kami berjalan menuju Candi Cangkuang. Untuk masuk kawasan ini cukup bayar 3000/orang cukup murah bukan???

Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1966 oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita berdasarkan laporan Vorderman dalam buku Notulen Bataviaasch Genotschap terbitan tahun 1893 mengenai adanya sebuah arca yang rusak serta makam kuno di bukit Kampung Pulo, Leles. Makam dan arca Syiwa yang dimaksud memang diketemukan. Pada awal penelitian terlihat adanya batu yang merupakan reruntuhan sebuah bangunan candi. Makam kuno yang dimaksud adalah makam Arief Muhammad yang dianggap penduduk setempat sebagai leluhur mereka. Selain menemukan reruntuhan candi, terdapat pula serpihan pisau serta batu-batu besar yang diperkirakan merupakan peninggalan zaman megalitikum. Penelitian selanjutnya (tahun 1967 dan 1968) berhasil menggali bangunan makam.
Walaupun hampir bisa dipastikan bahwa candi ini merupakan peninggalan agama Hindu (kira-kira abad ke-8 M, satu zaman dengan candi-candi di situs Batujaya dan Cibuaya?), yang mengherankan adalah adanya pemakaman Islam di sampingnya.

Pintu Gerbang Candi Cangkuang
Papan Nama Candi Cangkuang
Candi Cangkuang
Candi Cangkuang


Candi Cangkuang
Candi Cangkuang
Candi Cangkuang
Prasasti Candi Cangkuang
Di dekat Candi Cangkuang ini ada museumnya. D museum ini sobat traveler bisa melihat foto-foto pada saat pemugaran candi, ada juga benda-benda peninggalan leluhur. Cukup lengkap informasi yang ada di museum ini.

Setelah dari museum, kami melanjutkan ke Situ Cangkuang untuk mencoba rakit. Untuk ongkosnya kami membayar 20000/org karena saat itu hanya berdua saja penumpangnya. Normal harganya tidak sampai 20000. Pemandangan di SItu cangkuang cukup bagus. Apalagi pada saat itu kami bisa melihat matahari terbenam. Luar biasa bagusnya.

Rskit di SItu Gunung
Rakit Situ Cangkuang
Rakit Situ Cangkuang

Rakit Situ Cangkuang
Candi Cangkuang dilihat dari Situ Cangkuang

Sesampainya di tepi danau atau situ, berarti trip kami kali ini di Garut telah berakhir. Kami kembali harus menuju Alun-alun Leles untuk melanjutkan trip hari berikutnya yaitu ke Tasikmalaya. Dari Situ Cangkuang kami naik ojek lagi dengan ongkos 10.000/org. Dari alun-alun ini, kami menaiki Bis Karunia Bakti tujuan Singaparna. Tujuan kami hari kedua kami adalah Kawah Gunung Galunggung. Naik bis tadi kami turun di Terminal Singaparna tujuan akhir dari bis Karunia Bakti. Dari terminal kami keluar mencari penginapan. Di depan terminal ada penginapan murah yaitu Wisma Dewi 150rb/malam. Trip hari pertama selesai, nantikan kisah trip hari keduanya ya...

Rincian Biaya Transportas hari Pertama:

- Bus Primajasa (Jakarta - Garut)  52.000/org
- Ojek menuju Candi Cangkuang 20.000/org
- Tiket masuk kawasan wisata cangkuang 3000/org
- Naik Rakit di Situ Cangkuang 20.000/org
- Ojek ke Alun-alun leles 10.000/org
-  Bus ke Singaparna (Karunia Bakti) 25.000/org
- Penginapan Wisma Dewi 150.000/malam

Total Hari pertama :  280.000




    Thursday, October 29, 2015

    Pantai Watukarung Pacitan, Bikin Bule cantik ini jatuh Cinta



    Biar Teleng Ria dan Klayar menjadi duo pantai di Pacitan yang paling ramai dikunjungi traveler domestik tetapi bagi para bule Pantai Watukarunglah yang paling memikat hati. Hal ini dapat dilihat dari beberapa postingan foto di Instagram yang kebanyakan berasal dari akun turis mancanegara yang sedang berlibur ke sana.

    Nama Watukarung memang belum setenar Teleng Ria atau Klayar meski bagi warga Pacitan sendiri pantai ini telah dikenal sejak lama. Kebanyakan traveler domestik lebih mengenal dua pantai di atas yang memang tengah naik daun karena foto-foto lanskap kerennya banyak bergentayangan di dunia maya sehingga membuat orang-orang penasaran untuk datang membuktikannya langsung.


    Sunset di Pantai Watukarung, via Instagram

    Lain halnya dengan wisatawan asing, mereka malah menyerbu sebuah pantai di kecamatan Pringkuku yang bernama Pantai Watukarung. Pantai ini boleh dikatakan salah satu yang paling spesial diantara pantai-pantai lainnya di Pacitan. Alasannya tidak lain karena dari pantai ini traveler bisa melihat fenomena matahari tenggelam di tengah laut. Jika dilogika memang aneh mengingat pantai-pantai di kabupaten ini berada di pesisir selatan Jawa.

    Jika ditinjau dari posisi geografisnya bukanlah hal yang aneh jika pantai Watukarung memiliki pemandangan sunset di tengah laut pasalnya pantai ini berada dalam posisi agak serong ke arah barat. Belum lama ini sebuah akun Instagram milik bule cantik asal Chili bernama @alienncat mengunggah beberapa foto liburannya di Watukarung. Jika dalam foto tersebut tidak diberi keterangan tempat sudah tentu akan banyak orang yang mengira jika foto itu diambil di Bali atau bahkan luar negeri.


    Bule cantik dari Chile saat liburan di Watukarung, via Instagram

    Dalam foto-foto yang diunggah di akun instagramnya, ia terlihat sangat menikmati segala aktivitas yang dilakukan di pantai ini. Ia juga mengatakan bahwa sangat mencintai pantai Watukarung karena memiliki pasir pantai yang putih bersih, panorama yang indah dengan matahari yang selalu bersinar sepanjang tahun, sunset yang menawan dan yang paling penting pantainya masih sepi sehingga memberinya privasi yang jarang ia dapatkan di pantai-pantai lain.


    Wisatawan asing sedang berjemur di Pantai Watukarung, via Instagram

    Pantai Watukarung bisa menjadi alternatif liburanmu saat akhir pekan di Pacitan. Pada saat itu jalur menuju ke Pantai Klayar maupun Teleng Ria pasti sangat padat dan Watukarung menjadi pilihan tepat untuk melipir. Pantai ini berada di desa Watukarung, Kecamatan Pringkuku yang bisa kamu tempuh selama 45 menit perjalanan darat ke arah barat dari pusat kota Pacitan. So, tunggu apalagi, buruan traveling ke sana!

    Pantai Watukarung yang Keistimewaannya Nggak ada di Tempat Lain



    Berselancar atau hunting sunset, mungkin itulah pilihan kegiatan yang biasa dilakukan di Pantai Watukarung. Tapi jika kamu mau menjelajah sedikit ke arah timur kamu akan menemukan pemandangan lain dari pantai yang indah ini. Sebuah aliran sungai berkelok dengan latar belakang panorama alam yang cantik penuh dengan pohon kelapa khas pesisir pantai tropis. Siapkan kamera dan ambil gambar sepuasnya!

    Kabupaten Pacitan yang menjadi kota kelahiran presiden RI ke-6 ini memiliki potensi wisata yang sedang berkembang pesat. Meski dikenal dengan slogan Kota 1001 Gua nyatanya pantailah yang menjadi tulang punggung utama sektor wisata di kabupaten ini. Sebut saja pantai Klayar, Bayu Tibo, dan juga Teleng Ria. Pantai-pantai itu tidak pernah sepi pengunjung terlebih di hari libur, jalanan menuju lokasi bisa macet hingga beberapa kilometer.


    Kali Cokel, Watukarung, via Instagram

    Travelingyuk tidak akan membahas pantai-pantai yang sudah booming tersebut tapi kita akan jalan-jalan ke pantai yang berada di timur Pantai Klayar. Adalah Pantai Watukarung yang terletak di desa Watukarung, Kecamatan Pringkuku. Pantai ini berjarak 45 menit perjalanan darat dari pusat kota dengan kondisi jalan yang lumayan mudah.

    Pantai Watukarung dikenal memiliki gugusan pantai yang banyak dimana satu dengan lainnya terpisah oleh bukit-bukit. Pantai utamanya dikenal dengan nama pantai pasir putih yang memang memiliki pasir yang putih bersih dan lembut. Dibandingkan dengan traveler dalam negeri, pantai ini lebih dikenal oleh traveler asing terutama mereka yang hobi surfing. Ombak di pantai ini cukup besar namun tidak sampai ke pinggir sehingga pantainya cukup aman untuk berenang.


    Jembatan di Kali Cokel Watukarung, via Instagram

    Selain memiliki pantai yang indah, Watukarung juga memiliki sisi tersembunyi yang masih jarang diketahui oleh traveler. Jika kamu berlibur ke pantai ini melipirlah dengan mengambil arah kiri setelah pos tiket masuk menuju jalan kecil. Ikuti jalan tersebut dan kamu akan menemukan sebuah jembatan dengan sungai berwarna hijau di bawahnya. Sebagian besar traveler hanya lewat saja di jembatan ini, mereka tidak menyadari jika pemandangan dari atas jembatan begitu indah.


    Susur Kali Cokel dengan perahu, foto by Ardhaniaji

    Sungai di bawah jembatan ini bernama Kali Cokel. Bagi bule-bule yang berlibur di Watukarung sungai ini menjadi salah satu spot favorit yang mereka gunakan sebagai tempat untuk paddle board. Beberapa waktu lalu travelingyuk juga sempat ke tempat ini namun bukan untuk melakukan paddle board melainkan susur sungai menggunakan perahu. Ternyata pemandangan sepanjang Kali Cokel tidak kalah dengan Sungai Maron yang dianggap memiliki keindahan seperti Sungai Amazon. Hanya saja Kali Cokel memiliki jarak yang lebih pendek.

    Traveler yang penasaran ingin ber-paddle board bisa membawa papan seluncur sendiri sebab belum ada penyewaan di sana. Sedangkan bagi yang kepingin naik perahu keliling sungai dapat menyewanya pada warga setempat dengan harga bervariasi tergantung negosiasi. Jangan ketinggalan pula untuk berfoto dari jembatan kayak bule cantik di atas, hasilnya kece abis!

    Tuesday, October 20, 2015

    One Day Trip: Air Terjun Kembar Curug Cigamea Bogor

    Pintu Gerbang Curug Cigamea



    Halo sobat traveller.. berjumpa lagi dengan kisah One Day Trip kami yang gak jauh dari kota Jakarta. Tujuan kami kali ini adalah Curug CigameaLokasi Curug Cigamea Terletak di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat, Pulau Jawa, Indonesia. Koordinat GPS: 6° 41' 40.30" S 106° 41' 8.48" E . Jaraknya kurang lebih sekitar 38 km dari kota Bogor sampai Pintu Gerbang dari Kawasan Wisata Gunung Salak Endah. 

    Berbekal informasi dar berbagai sumber dan tentunya referensi dari mbah google, maka kami putuskan untuk mengunjungi lokasi Curug Cigamea. 

    Ada beruang makan ketupat, berangkaaaaaaat.... :D

    Seperti trip sebelumnya ke Curug Cilember, kami start perjalanan dari Grogol Jakarta Barat. Pukul 07.30Wib Terlebih dulu kami jalan kaki ke arah ITC Roxy Mas (yaaa kurang lebih 500 meter lah, mayan jalan pagi sehat) untuk menaiki angkot menuju stasiun tanah abang (ongkos 4000). Perjalanan kurang lebih 15menit dari ITC Roxy Mas menuju Stasiun Tanah Abang. Perlu diketahui bahwa angkot ini tidak berhenti pas di depan stasiun, melainkan berhenti di pertigaan flyover, jadi ya perlu jalan kaki lagi kurang lebih 200meter. Mengapa dalam trip kami ke Bogor selalu berangkat antara pukul 07.00-07.30 ? jelas tentu kami mengejar jadwal KRL pagi jam 08.00,jadi ketika sampai stasiun gak nunggu keretanya lama.. hehehe. Sampai di stasiun langsung menuju loket tiket. Karena kami tidak punya tiket isi ulang, jadi ya beli kartu tiket dan ongkos Jakarta-Bogor 15000(jaminan kartu 10ribu & tiket 5ribu). Selang beberapa menit, tepatnya jam 08.10 kereta tiba, dan cuuussss bogooorrr.

    Perjalanan ke Bogor kurang lebih satu setengah jam, jadi kami tiba di Bogor pukul 09.30 Wib. Sampai di stasiun Bogor, kami langsung menuju loket penukaran tiket jaminan. (lumayan broo 20000 bisa buat ongkos angkot hahaha). Oke lanjut setelah penukaran tiket jaminan, langsung keluar stasiun nyebrang lewat jembatan, soalnya angkutannya ada di seberang jalan (berbeda arah ketika naik angkot ke sukasari waktu trip ke Curug Cilember). Kali ini kami naik angkot jurusan Terminal Laladon. Seingat saya ada 2 angkot yang menuju kesana (para sopir angkot yang ngetem pasti teriak Terminal Laladon). Angkot yang menuju terminal Laladon yaitu angkot 02 jurusan Sukasari - Bubulak & angkot 03 Term. Baranangsiang - Bubulak, 2 angkot tersebut bisa mengantar ke Terminal Laladon. Ongkosnya sendiri 4000/org. 

    Sesampainya di terminal Laladon, kami berganti angkot lagi. Kali ini angkot jurusan Leuwiliang. Kami turun di pertigaan Cibatu, kalo ada agan yang mau kesini tinggal bilang aja ke sopirnya turun di pertigaan Cibatu. Kali ini perjalanan lumayan jauh, kurang lebih 45 menit. Ongkosnya 8000/orang. Sampai di sini perjalanan belum usai kawan, kami harus menaiki angkot sekali lagi. Dari tempat kami turun angkot tadi, kami tinggal jalan kaki belok kiri. Nah disitu banyak angkot yang ngetem. Kami menaiki angkot jurusan Cibatu - Gunung Pincung. Jangan heran klo banyak yang ngetem di sini, karena jarang ada penumpang :D. Ketika itu kami hanya berdua saja setelah menunggu ngetemny si angkot setengah jam dan gak ada penumpang lagi yang naik...hahaahaha.Nyari penumpangnya sambila jalan.

    Perlu diketahui bahwa perjalanan naik angkot ini sampai di lokasi bisa memakan waktu satu jam. Sepanjang jalan kami ngobrol dengan supir dan seorang temannya (kernetnya sih sepertinya). Kami ngobrol ngalor kidul apapun dibahas seputar curug cigamea ini. Sopir dan temannya ini orangnya kocak ternyata jadi kami tidak terlalu bosan di dalam angkot. Diobrolan kami, sopir angkotnya nawarin ke kami berdua di anter sampe depan pintu gerbang ongkosnya 30000/orang, klo rombongan lebih dari 5, kena nya 25000/orang. Setelah kami itung-itung ternyata lebih irit juga sih. Soalnya berdasarkan info di internet bahwa naik angkot cuma sampai Gunung Pincung setelah itu naik ojek (ongkosny 25000). Jadi kami memutuskan untuk menyetujuinya. Sopirnya juga menawarkan kepada kami untuk dijemput atau tidak dengan harga yang sama. Kami pun juga menyetujuinya. Karena sepanjang perjalanan, kami tidak melihat angkot yang lewat sebaliknya.

    Angkot Jurusan Gunung Pincung

    Setelah perjalanan cukup jauh, sampailah kita di pintu gerbang Curug Cigamea. Terlihat di sekitar pelatarannya banyak sekali motor dan beberapa mobil yang terpakir area pintu gerbang ini. Perjalan kami ternyata belum usai, kami harus berjalan lagi masuk setelah pintu gerbang sejauh 1km lagi. Untuk tiket masuk seharga 10000/org termasuk asuransi.

    Area parkir pintu masuk
    Pintu Gerbang Curug Cigamea
    Tiket Masuk + Asuransi
    Pemandangan sekitar jalan menuju curug cigamea sangat bagus. Hijau pepohonan terasa menyejukan segala rasa di hati. Banyak sekali pengunjung yang datang kesini ketika hari libur. Sepanjang perjalanan yang kita lalui bnyak warung-warung kecil yang menjual aneka makanan dan souvenir.

    Jalur treking menuju Curug Cigamea

    Jalur treking menuju Curug Cigamea

    Jalur treking menuju Curug Cigamea

    Jalur treking menuju Curug Cigamea

    Jalur treking menuju Curug Cigamea

    Jalur treking menuju Curug Cigamea
    Jalur treking menuju Curug Cigamea ini cukup bagus, sudah di paving. Jadi tidak terlalu sulit aksesnya, namun ya capek juga sih. Kondisi treking yang naik turun ini, harus diwaspadai juga karena apabila musim hujan jalur tersebut pasti akan licin. Untuk waktu yang kita tempuh sekitar 30menit (karena kebanyakan berhenti sambil selfie2 hahhaa). Nampak dari kejauhan terlihat Curug Cigamea. Curug ini memiliki dua buah air terjun utama dengan karakter yang berbeda. Air terjun yang pertama letaknya lebih dekat dengan jalan masuk, dengan tebing curam seperti dinding dan didominasi dengan banyak bebatuan hitam. Kolam limpahan air yang terdapat dibawahnya tidaklah terlalu dalam dan luas serta tidak dapat digunakan untuk berenang. Curug yang kedua berada di sebelah kiri dengan debit air yang lebih deras. koloam limpahan airnya cukup dalam, mencapai leher orang dewasa. Di curug dua ini ada pembatas tali yang menunjukan batas kedalaman terendah.

    Curug Cigamea pertama

    Curug Cigamea pertama

    Curug Cigamea pertama

    Curug Cigamea pertama

    Curug Cigamea pertama

    Curug Cigamea kedua

    Curug Cigamea kedua

    Curug Cigamea kedua


    Curug Cigamea kedua

    Curug Cigamea kedua


    Curug Cigamea kedua


    Curug Cigamea kedua

    Curug Cigamea kedua
    Air di Curug Cigamea ini sangat dingin sekali. Banyak para pengunjung yang menggigil ketika nyemplung ke kolam curugnya. Tak lupa kami foto-foto di sini. Ada tragedi yang tidak mengenakan pada saat itu, HP kami menyelam bebas ke dalam air. Hiks.. Untung saja dengan sigap kami langsung ambil HP nya yang masih bisa menyala, kami angkat, matikan dan keringkan agar tidak terjadi kerusakan yang lebih parah. Bagi sobat yang mau kesini, mending siapkan waterprof untuk HP sobat atau bisa juga menggunakan plastik es.

    Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 3 sore lebih, itu berarti kami di lokasi tersebut sudah lebih dari 3 jam. memang klo sudah asyik main, kadang lupa waktu. Kala itu mendung tiba-tiba menyelimuti kawasan Curug Cigamea. Ternyata benar saja, ujan tiba-tiba turun deras. Para pengunjung di himbau oleh petugas di lokasi menggunakan pengeras suara untuk segera keluar dari area Curugnya. Alasan tersebut memang benar sangat diperlukan mengingat hujan yang turun deras, rawan sekali terjadinya banjir bandang.

    Beruntungnya kita sudah persiapan bawa payung, jadi kami bisa langsung pergi balik ke pintu gerbang. Sesampai di gerbang, kami berganti baju terlebih dahulu karena baju basah. Waktu itu angkot yang membawa berangkat kita tadi sudah standby jemput di depan pintu gerbang. Oke tepat pukul 16.00wib kami sudah meninggalkan lokasi curug cigamea dan balik menuju Jakaarta.

    Oh ya info aja sih kami kali ini membawa bekal makan dari kost (masak nasi sendiri ceritanya, lauknya sih tetep beli di warteg..hahahaa). ya hitung-hitung menekan cost.

     Untuk angkutan balik ke Jakarta, masih sama seperti angkutan pada saat berangkat hanya saja arahnya sebaliknya.

    Demikian kisah seru kami berdua ke Curug Cigamea Bogor. Nantikan kisah seru trip kami selanjutnya. Bagi sobat yang ingin bertanya mengenai rute,angkutan atau hal lainnya bisa tinggalkan coment di sini atau bisa kirim email ke donimarzizou@gmail.com

    Byeeee...

    Rincian Biaya Perorang:

    1. Angkot Roxy - Tanah abang PP: 8000
    2. Comuter Line (KRL) Jakarta - Bogor PP: 10000 (uang jaminan tiket tidak dihitung)
    3. Angkot dari Stasiun Bogor ke Terminal Laladon PP: 8000
    4. Angkot dari Terminal Laladon (angkot jurusan Leuwiliang) PP: 16000
    5. Angkot dari pertigaan Cibatu ke Curug Cigamea PP: 60000
    6. Tiket masuk kawasan Gunung Salak Endah : 7000
    7. Tiket masuk Curug Cigamea : 10000
    8. Toilet di Curug Cigamea : 2000

    Total: Rp 121.000 (Biaya ini tidak termasuk makan, minum dan snack karena kami prepare dari kost)

    Recent Post