Latest News

Saturday, May 30, 2015

Tips & Trik Mendapatkan Foto Terbaik Saat Liburan


 Seringkali kita merasa kesal dengan hasil jepretan foto saat liburan, ibaratnya kita ingin pergi liburan ke suatu tempat karena sebuah foto yang bagus. Dan ketika pergi kesana hasil foto yang kita buat tidak memuaskan dan bahkan tidak bagus. Lalu, dimana letak kesalahannya?


Hasil jepretan foto yang kurang bagus memang ada beberapa faktor kesalahan. Hal ini, bisa membuat traveler menjadi ilfil saat berlibur. Ada beberapa kesalahan Travelers atau turis yang kadang karena hal sepele, apa saja sih perbedaan professional fotografer memotret dengan kita sebagai orang awam. Nih saya kasih komparasi perbandingan bagaimana professional fotografer memotret agar hasilnya maksimal, dan buat fotografer nubie supaya bisa memotret sama bagusnya dengan fotografer professional.

1. Waktu, Komposisi dan momen.

Ketika sampai disuatu tempat banyak orang merasa hasil fotonya jelek, padahal view maupun tempat yang dipilih sudah bagus. Sebenarnya, kesalahan yang kerap terjadi adalah soal waktu, komposisi, momen serta pemakaian kamera," ada banyak sekali faktor yang membuat hasil foto itu bagus, memang bagus bagi setiap orang berbeda. Tetapi saya bisa bilang bagus dari 10 orang yang melihat 8 atau 9 orang yang melihat akan bilang foto itu sedap dipandang. Saya akan coba jelaskan satu persatu soal waktu, komposisi, momen serta pemakaian kamera secara baik dan benar.

2. Waktu.

Faktor pertama adalah soal waktu. Yang saya maksudkan disini soal waktu yang menentukan seorang fotografer bisa mendapatkan hasil foto yang bagus adalah lamanya fotografer tersebut disuatu tempat. mendapatkan hasil foto yang terbaik adalah persoalan lamanya waktu, Bila memiliki waktu sedikit maka Anda jangan berharap mendapatkan foto yang bagus.

Kadang kita suka heran dengan Fotografer National Geographic atau bidang jurnalistik Word Press mereka bisa menghasilkan foto “Mahakarya” yang sangat menyentuh dan kita bisa memandang lama foto tersebut karena saking bagusnya. Kunci dalam membuat foto bagus adalah waktu, lamanya kita disuatu tempat mempengaruhi hasil yang kita buat. Perbedaan Travel Fotografer dengan Photographer seperti Natgeo adalah mereka bisa ditempat tersebut berbulan bulan lamannya. Semakin lama anda berada disuatu tempat, akan semakin banyak yang kita bisa dapat. Anda lihat foto-foto yang mendunia, dimana photographer membutuhkan waktu yang lama hingga berbulan-bulan untuk mendapatkan satu objek yang diinginkan. Lebih lama Anda memiliki spend waktu, maka hasil foto pun akan semakin bagus pula.

3. Komposisi foto.

Disini, jika tak memperhatikan ketepatan komposisi foto maka hasil foto bisa membuat Anda kurang puas. Bagaimana sih melatih agar komposisi didalam foto kita bisa bagus, jawabnya memang harus sering berlatih, banyak melihat foto yang bagus, dan “practice makes perfect” ketika sering berlatih dan hunting, feel sense kita juga akan terlatih, bisa memberikan sentuhan karakter kita kedalam komposisi didalam foto tersebut.

Di kamera itu terdapat gambar berbentuk kotak, perhatikan bagian atas, bawah, kanan dan kiri dengan bagian atau ukuran yang sama ketika sedang foto obyek yang diinginkan. Perhatikan pula soal warna yang didapat pada kamera yang digunakan," intinya adalah banyaklah berlatih karena didalam fotografi itu guru terbaik adalah “Practice makes perfect”

4. Momen

Lalu, ada pula persoalan momen. Faktor ini sangat penting untuk mendapatkan hasil foto terbaik. "Hasil foto yang bagus adalah pada saat musim kemarau atau saat high season. Tapi, kebanyakan pada umumnya traveller lebih mencari musim yang murah dan itu ada di low season. Hasil yang didapatkan tidak maksimal.

Seringsekali saya dikomplen sama teman ataupun travellers lainnya, mereka merasa tertipu ketika melihat foto saya bagus dan ketika mereka kesana ternyata tidak sesuai dengan harapan alias ternyata pas difoto engga bagus bagus amat hehe. Sebenarnya ini ada sedikit salah pemahaman tentang bagaimana seorang travellers dan fotografer dating ke suatu tempat berbeda. Maksudnya begini, seorang fotografer itu biasanya datang ke suatu destinasi pada saat cuaca cerah, atau musim kemarau. Nah musim cerah dan kemarau itu biasanya datang ketika high season, pada saat semua tiket dll jadi mahal. Tetapi saat inilah saat yang terbaik untuk memotret karena cuaca cerah, sedangkan banyak travellers yang saya temui mereka traveling itu biasanya pada saat musim promo. Bener gak? Dan biasanya saat tiket promo itu berada di low season, cuaca kurang mendukung dll. Nah perbedaan inilah yang membuat perbedaan besar hasil memotret. Jadi, kalau mau memotret bagus datanglah pada saat musim kemarau dan kering, dimana langit biru dan cuaca juga mendukung. Dijamin memotret pakai kamera smartphone pun juga hasilnya bakal bagus.

5. Bacalah buku manual kamera yang agan punya.

Dan yang terakhir adalah soal pemakaian kamera. Faktor ini sangat menentukan hasil foto yang baik saat Anda melakukan travelling. Sekarang saya tanya, seberapa banyak sih buat anda yang membeli kamera terus membaca detail buku manualnya? Hayo jujur berapa banyak? Hehe

Anda jangan berharap mendapatkan foto yang baik ketika memakai kamera dengan tidak memahami fungsinya dengan baik dan benar, kelemahan sebagian besar orang Indonesia tuh menurut saya kurang membaca. Banyak bertanya tanpa membaca terlebih dahulu, nah ini kalau tidak memahami kamera yang kita punya. bagaimana kita bisa memotret maksimal kalau tidak membaca manual book. Banyak2lah membaca dan berlatih, dijamin engga lama bakal bisa motret foto liburan yang bagus dan gak kalah sama yang professional fotografer. Selamat liburan dan berkarya.Sumber: Kaskus

Friday, May 29, 2015

Penting! 7 Etika & Peraturan Saat Naik Gunung


Hampir di setiap gunung ramai kala hari libur. Eits, sebelum naik gunung, ketahui dulu aturan tidak tertulisnya. Mengucap salam dan permisi saat naik gunung, bukan sekadar mitos lho tapi etika pendaki yang baik.

Berada di satu tempat asing harus ada aturan dan etika. detikTravel berbincang bersama Harley Sastha, pendaki gunung sekaligus penulis buku Mountain Climbing for Everybody. Dia mengungkapkan bagaimana tata krama dan etika untuk naik gunung. Menurutnya, ada satu pegangan yang sangat penting diketahui oleh semua orang, termasuk pengelola, pendaki dan masyarakat setempat.

Mungkin banyak yang sudah kenal dengan istilah Leave No Trace atau Jangan Tinggalkan Jejak (saat di gunung). Tapi berapa banyak yang tahu mengenai isi dari istilah tersebut? Ini adalah pedoman yang dibuat oleh lembaga nasional AS, National Outdoor Leadership School (NOLS). Awalnya untuk digunakan sebagai pedoman di hutan hujan Amerika Latin. Tapi, bisa juga diaplikasikan di alam Indonesia.

"Jadi ada 7 poin penting yang harus diketahui sebagai etika saat naik gunung," ujar Harley kepada detikTravel yang ditulis Kamis (28/5/2015). Apa saja?

1. Persiapan & perencanaan ke depan

Maksudnya, mencari informasi sebanyak-banyaknya sebelum naik ke gunung. Dengan mengetahui medan, informasi dan kisah yang terjadi di gunung itu, kamu bisa mempersiapkan diri lebih matang. Mulai dari tipe gunung, hingga apa yang sedang terjadi di sana.

"Pastikan juga kita punya keterampilan dan peralatan untuk berkegiatan di sana," lanjut Harley.

Bukan berarti naik gunung yang hanya 1-2 jam bisa menyepelekan dan tak menggunakan peralatan gunung. Karena jika tidak, bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
2. Hormat dan sopan terhadap orang lain dan alam
Dalam peraturan tak tertulis, biasanya para pendaki saling bertegur sapa saat bertemu pendaki lainnya. Juga, memberi jalan jika bertemu di jalan setapak. Ini juga termasuk dalam 7 etika dasar saat berada di alam bebas.

"Hormati kualitas pengalaman dan pengetahuan mereka, misal ada yang punya pengetahuan lebih banyak mengenai mountaineering, hormati saja," kata pria mantan anggota Aku Cinta Indonesia detikcom 2010 tersebut.

Pria yang sedang menulis buku tentang Gunung Tambora ini juga menambahkan bagaimana bersikap selama di jalan. Jangan beristirahat di tengah jalur karena akan menyusahkan mereka yang ingin lewat.

"Yang penting juga, hormati warga sekitar. Kalau lewat ladang bilang permisi, kalau ada pagarnya jangan lupa ditutup lagi, hormati adat istiadat yang berlaku di sana," lanjutnya.

Selain terhadap orang lain, juga terhadap alam. Harley menganggap dirinya sebagai tamu saat mengunjungi hutan atau gunung. Oleh karena itu, ia selalu mengucapkan salam saat memasuki area-area tersebut.

"Kalau jadi tamu kan kita harus mengucap salam. Saya pun begitu, siapapun yang jawab, setidaknya saya sudah menghormati alam dan apa saja yang ada di sana," katanya.

3. Menghormati kehidupan liar

"Kalau ketemu hewan cukup lihat atau foto. Tak usah dikejar," kata penulis buku Mountain Climbing for Everybody ini.

Menurutnya, perubahan perilaku hewan merupakan salah kita, manusia. Maka dari itu, jangan memberi makan hewan yang ditemui. Juga jangan membuang sampah makanan sembarangan karena bisa dikonsumsi para hewan dan jadi bahaya.

"Kalau ada suara-suara alam, termasuk dari hewan, jangan malah berisik. Hargai apa yang ada di dalam dengan tidak mengeluarkan polusi suara berlebihan," tuturnya.

4. Berjalan & berkemah di permukaan tanah yang baik dan keras

Kebanyakan gunung sudah masuk kawasan Taman Nasional. Nah di sana, sudah ada jalur dan area camping yang disiapkan.

"Kalau sudah ada jalur dan area camping yang jelas, ya sudah di sana saja. Tak perlu buka jalur, atau mencari area lain yang bukan kawasannya," ujar pria yang juga menulis buku Tarian Sang Kembara ini.

Membuat kemah pun ada aturannya. Menurut Harley, hindari membuat kemah terlalu dekat dengan sumber air. Hewan liar juga butuh air untuk minum.

"Sumber air kan bukan cuma untuk manusia. Juga untuk hewan yang tinggal di sana. Kalau terlalu dekat, dan ada manusia yang masih bangun, hewan otomatis takut mendekat. Berarti mereka kehausan, berarti mereka puasa. Kasihan kan? Dirikan tenda minimal 5-8 meter dari tepian sumber air," kata Harley.

Salah satu contohnya adalah di Danau Segara Anak, Rinjani. Banyak yang sengaja membuat tenda dekat danau demi pemandangan indah. Padahal yang seperti itu malah menyiksa hewan sekitar.

5. Biarkan apa yang dilihat dan ditemukan

"Misal ada situs, peninggalan, atau bahkan pipa air, biarkan saja seperti apa adanya," ujar penulis di E-Magz MountMag ini.

Sebagai tamu, para pendaki sudah seharusnya tidak merubah apapun yang ada di hutan atau gunung. Cukup lihat, kalaupun menarik, boleh foto saja. Jangan menyentuh apalagi merubahnya.

"Juga kalau bertemu tumbuhan yang menarik, tak usah ditarik-tarik apalagi dipetik. Lihat dan foto saja. Cukup," lanjutnya.

Tambahan dari Harley, jangan membawa hewan atau tumbuhan yang bukan habitatnya. Jangan menanam atau membawa hewan dari rumah dan melepasnya di hutan atau gunung. Karena belum tentu itu habitat yang tepat untuk mereka.

6. Membuang limbah dengan benar

"Di Rinjani, di jalur pendakian saja ditemukan kotoran manusia," curhat Harley.

Oleh karena itu, ketahui bagaimana membuang limbah yang benar. Mulai dari kotoran sendiri hingga sisa makanan. Jika ingin buang air besar, agak menjauh, gali dengan kedalaman sekitar 10 cm dan jangan lupa diuruk lagi.

"Limbah sampah juga jangan dibuang sembarangan, bawa pulang lagi. Yang organik bisa ditimbun di tanah," kata Harley

7. Minimalkan efek penggunaan api

"Kalau tidak mendesak sekali, jangan buat api unggun," Harley menganjurkan.

Misal tidak ada hal yang sangat mendesak, atau ada yang sakit, tak perlu menyalakan api unggun. Toh memasak sekarang sudah bisa pakai kompor dan banyak yang bawa kompor.

Kenapa jangan api unggun? Karena banyak pendaki yang enggan mencari batang pohon dan memilih menebang pohon terdekat. Padahal itu merupakan tindakan yang sangat berdosa.

"Kalau mau bikin api unggun, pakai ranting atau batang pohon yang sudah jatuh dari pohonnya," lanjutnya.

Juga, banyak yang tidak sadar bagaimana menyalakan dan mematikan api unggun dengan benar. Itu yang bahaya.

"Harus mematikan bara sampai benar-benar jadi abu. Jadi jangan main tinggal saja," tutup Harley. Sumber: DetikTravel

4 Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Naik Gunung


Tidak sedikit traveler yang gemar naik gunung. Namun sebelum mendaki gunung, traveler perlu membuat persiapan yang matang. Setidaknya ada 4 hal yang perlu dipersiapkan sebelum naik gunung.

Naik gunung baiknya dilakukan dengan fisik yang sehat, serta perlengkapan yang memadai. Dihimpun detikTravel, Kamis (27/5/2015) berikut 4 hal yang perlu dipersiapkan untuk naik gunung:

1. Fisik yang memadai

Salah satu syarat penting yang harus dimiliki pendaki sebelum baik gunung fisik yang memadai. Membicarakan fisik, bukan berarti harus berotot seperti binaragawan, namun sehat. Itu yang terpenting.

Untuk mendapat kondisi fisik yang memadai, sangat disarankan bagi calon pendaki untuk melakukan jogging atau latihan secara rutin dan berkala. Selain menyehatkan, olahraga rutin juga dapat membuat tubuh lebih fit saat melakukan pendakian.

Lagipula, fisik yang baik juga mengurangi resiko cedera saat tengah menggendong tas kerir yang berat. Tentunya Anda tidak mau kelelahan saat mendaki akibat kurang latihan fisik sebelumnya kan? Makanya persiapan fisik dulu sebelum mendaki.


2. Cari informasi

Selain kondisi fisik yang fit, informasi juga merupakan salah satu hal utama yang harus dipersiapkan sebelum naik gunung. Selalu usahakan untuk mencari tahu, perihal ketinggian gunung, rute, hingga kondisi dan waktu terbaik untuk naik gunung.

Informasi pun bisa didapat dengan membaca berita traveling seperti detikTravel, maupun dari situs lembaga kehutanan atau informasi dari teman yang sudah pernah mendaki. Percayalah, informasi tersebut tidak hanya berguna, namun juga penting.

Selain itu informasi juga dapat menjadi pertimbangan bagi traveler untuk memilih gunung, maupun mencari waktu terbaik untuk mendaki. Informasi itu memang sangat penting.


3. Persiapkan peralatan

Apabila sudah menyiapkan fisik dan mencari informasi, maka hal penting yang perlu dipersiapkan berikutnya adalah peralatan naik gunung. Sebelum naik gunung, persiapkan tas carrier, tenda, kompor, sleping bag, sendal gunung, jaket, hingga obat-obatan untuk jaga-jaga.

Walau semua perlengkapan yang disebutkan sebelumnya penting, namun pastikan Anda membawa peralatan yang dibutuhkan agar tidak memberatkan tas. Tidak perlu memaksakan diri untuk membawa banyak barang, apalagi jika malah menyusahkan diri sendiri saat pendakian.

Jika ingin lebih ringan, usahakan pergi dengan beberapa teman. Minimal Anda bisa membagi berat tas dan perlengkapan yang perlu dibawa dengan rekan pendakian.


4. Penuhi prosedur naik gunung

Umumnya hampir setiap gunung yang berada dalam naungan Taman Nasional memiliki petugas untuk mengawasi gunung dan para pendaki. Sebelum mulai mendaki, pastikan Anda singgah di kantor Taman Nasional dan melakukan registrasi lebih dulu.

Dengan melakukan registrasi data diri sebelumnya, pihak petugas akan tahu perihal keberadaan Anda. Bukan tanpa alasan, jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan di gunung, para petugas dapat segera turun untuk menolong.

Lagipula Anda juga dapat bertanya perihal gunung yang akan didaki di pos Taman Nasional. Sudah tentu para petugas paham akan kondisi gunung, sehingga dapat memberikan saran terbaik soal pendakian. Semoga berguna! Sumber: DetikTravel

Wednesday, May 27, 2015

Pantai Buyutan Pacitan

Pantai Buyutan merupakan nama pantai di Pacitan yang kini mulai tidak asing lagi di telinga para pecinta wisata pantai. Lokasinya berdekatan dengan Pantai Klayar dan Pantai Banyu Tibo. Aksesnya yang semakin mudah didukung dengan prasarana yang terus dibangun, membuat Pantai Buyutan semakin sering didatangi pengunjung. Dengan semakin banyaknya yang berkunjung, publikasinya pun cepat menyebar baik dari person to person maupun melalui berbagai media baik media massa maupun media sosial.

Landscape Pantai Buyutan
Daya tarik utama Pantai Buyutan adalah batu-batu karang di pantai yang memiliki bentuk yang sangat khas. Selain itu didukung pasir putih, air pantai yang jernih bersih dan tentunya fasilitas alam yang ada seperti ketersediaan sumber air tawar di sekitar pantai.
Watu Narodo, landmark paling khas dari Pantai Buyutan
Seiring semakin banyaknya pengunjung, tentunya Pantai Buyutan semakin dibenahi. Akses jalan kini sudah dibangun sampai tepi pantai. Fasilitas seperti sarana toilet juga sudah dibangun dan tentunya lagi mulai dibangun juga lapak-lapak pedagang dari penduduk sekitar yang mencoba memanfaatkan peruntungan dari pengunjung yang datang. Bangunan pedagang ini ada yang berupa tenda-tenda, bangunan semi permanen maupun bangunan permanen.

Sarana jalan sudah menjangkau sampai ke tepi pantai
Ada satu hal yang kadang belum diketahui baik oleh pengunjung maupun oleh masyarakat sekitar, yang seharusnya menjadi perhatian bagi kita semua baik pengunjung, masyarakat sekitar maupun pengelola. Satu hal penting ini adalah bahwa Pantai Buyutan sebenarnya termasuk salah satu situs geologi warisan dunia dari Geopark Gunung Sewu Geoarea Pacitan.

Dari sisi geologi, Pantai Buyutan terbentuk karena pengangkatan aktif di sepanjang pantai yang menghasilkan morfologi undak pantai setinggi puluhan meter. Sea stacks (pulau-pulau karang) dengan bentuk yang unik di lepas pantai merupakan sisa-sisa sebuah tanjung kecil yang hancur karena terpaan ombak dalam kurun waktu yang lama.

Hamparan pasir pantai dengan background sea stacks khas Pantai Buyutan
Pantai Buyutan sendiri terletak di Desa Widoro Kecamatan Donorojo-Pacitan. Masih satu kawasan dengan Pantai Klayar dan Pantai Banyu Tibo. Akses termudah menuju pantai ini adalah melalui jalur Punung- Gua Gong. Dari kawasan wisata Gua Gong ambil lurus arah ke Kalak/Pantai Klayar. Di perempatan Kalak belok kiri, melewati Pasar Kalak. Setelah pasar ada pertigaan, ambil jalan yang kanan, kalau jalan yang kiri menuju Pantai Klayar dan Ngiroboyo. Ikuti terus jalan utama, sekitar 2 km ada pertigaan dengan penunjuk arah ke Pantai Buyutan. Ikuti terus jalan tersebut nanti akan sampai areal persawahan yang luas. Nah diujung area persawahan itulah letak Pantai Buyutan.

Pantai Buyutan dikelilingi tebing-tebing tinggi, dan terletak di bawah area pertanian warga
Kita bisa hanya sampai di ujung area pertanian warga ini untuk menikmati pantai dari atas. Tetapi juga bisa turun ke bawah menuju area pantai melalui jalan yang sudah dibangun. Pada hari-hari biasa pantai ini masih relatif sepi, dan agak ramai saat hari libur. Pantai Buyutan juga merupakan salah satu lokasi terbaik untuk menikmati sunset di Pacitan.

Sunset di Pantai Buyutan
Seiring waktu Pantai Buyutan akan terus berkembang menjadi pantai wisata. Dan sebagai salah satu situs warisan dunia, tentunya tugas kita bersama untuk ikut menjaganya. Salah satunya yang termudah yang bisa kita lakukan adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan. Ada baiknya jika sampah terutama sampah anorganik, kita bawa kembali dan tidak ditinggalkan di kawasan pantai.
Mari berwisata yang ramah lingkungan, mari berwisata ke Pacitan. Sumber: info@pacitan

Sunday, May 17, 2015

Goa Gong Pacitan

Pacitan sering disebut dengan julukan Kota 1001 gua. Julukan ini tidaklah berlebihan, karena memang terdapat ribuan gua yang tersebar hampir di seluruh wilayah Pacitan. Dan diantara ribuan gua tersebut yang paling terkenal tentunya Gua Gong, gua yang disebut-sebut terindah se-Asia Tenggara.



Gua Gong memang sudah semakin terkenal, baik oleh wisatawan lokal, nasional bahkan mancanegara. Tanya saja sama mbah google, sudah banyak situs web berbahasa asing yang mengulasnya, seperti tourism-spot tripadvisor, travel-asiaone, dan tentunya salah satu sponsor lighting Gua Gong yaitu Philips. Tidak mengherankan jika setiap hari libur kawasan wisata Gua Gong selalu ramai dipadati wisatawan. Bahkan saking banyaknya pengunjung, sering terjadi kemacetan di jalur masuk kawasan wisata andalan Pacitan ini.



Keindahan Gua Gong terletak pada ornamen guanya baik stalagtit, stalagmit maupun ornamen gua lainnya. Ornamen Gua Gong bagaikan ukiran-ukiran dengan berbagai bentuk yang indah. Beberapa ornamen bahkan diberi nama sesuai bentuknya diantaranya adalah Sela Giri, Sela Citra Cipta Agung, Sela Pakuan Bomo, Sela Adi Citra Buwana, Sela Bantaran Angin dan Sela Susuh Angin.


Tetes-tetes air yang menetes dari ornamen-ornamen Gua Gong menandakan bahwa ornamen ini “hidup” dan terus tumbuh. Tetesan air yang membasahi ornamen juga menimbulkan efek berkemilau pada ornamen jika tersorot cahaya. Kilauan yang mirip kilau permata dari ornamen yang indah inilah yang membuat Gua Gong bagaikan sebuah istana yang tersembunyi di bawah perut bumi. 



Tetesan air juga akhirnya mengumpul membentuk danau-danau kecil yang biasa disebut sendang. Ada 5 sendang yang terkenal yaitu Sendang Jampi Raga, Sendang Panguripan, Sendang Relung Jiwa, Sendang Kamulyan, dan Sendang Relung Nista yang dipercaya memiliki nilai magis untuk menyembuhkan penyakit maupun membuat awet muda.





Gua Gong diketemukan pada tahun 1995, tetapi ternyata jauh sebelumnya juga pernah dimasuki oleh orang. Menurut seorang warga setempat, penemuan Gua Gong di tahun 1995 pun berdasarkan kisah dari salah satu kakek warga yang dulunya pernah masuk ke dalam gua. Dari cerita kakek mereka itulah, beberapa warga Dusun Pule Desa Bomo mencari kembali lokasi mulut gua dan akhirnya berhasil menemukannya. 

Penamaan Gua Gong itu sendiri bermula dari seringnya terdengar bunyi-bunyian gamelan Jawa juga terkadang musik pengiring reog yang dominan suara gongnya. Bunyi-bunyian itu berasal dari bukit dimana Gua Gong berada. Sedangkan bukit dimana Gua Gong berada biasa disebut Gunung Gong-Gongan sehingga akhirnya disepakati nama gua adalah Gua Gong.



Awal ditemukan, pengunjung jika mau masuk Gua Gong harus membawa senter ataupun lampu petromaks. Biar tidak tersesat dipasang tali sebagai pemandu jalur. Keindahan Gua Gong setelah diketemukan menyebar begitu cepat. Antusias pengunjung begitu tinggi, akhirnya Pemkab Pacitan pun bergerak untuk membangunnya menjadi obyek wisata. Tahun 1996 dibangun fasilitas gua berupa jalan undak-undakan dan aliran listrik untuk penerangan. Secara bertahap fasilitas Gua Gong semakin dilengkapi, area parkir, area pedagang, toilet, penggantian lampu penerangan dengan lampu LED yang lebih ramah lingkungan, dan yang utama perbaikan dan pelebaran jalan dari jalur utama Pacitan-Solo sampai kawasan wisata Gua Gong.




Gua Gong juga termasuk salah satu diantara 13 geosite dari Geopark Gunung Sewu untuk geoarea Pacitan. Sebagai salah satu situs geopark, tentunya menambah nilai dari Gua Gong sendiri, karena selain keindahannya, juga ada sisi keilmuannya terutama geologi.

Sebagai gua dengan keindahan berkelas dunia, tarif masuk Gua Gong terhitung sangat murah, hanya 5 ribuan rupiah.





Untuk menuju Gua Gong bisa diakses dari jalan utama Pacitan-Solo. Sampai di pertigaan barat masjid besar Punung sudah ada papan penunjuk arah menuju Gua Gong, ikuti saja jalan utama dan sekitar 8 Km akan sampai kawasan wisata Gua Gong. 

Nah, anda dianggap belum pernah ke Pacitan jika belum berkunjung ke Gua Gong, Gua terindah se-Asia Tenggara. Sumber: info@pacitan

Pantai Klayar Pacitan

Tidak perlu diragukan lagi, Pantai Klayar merupakan salah satu Pantai di Pacitan yang paling menarik minat pengunjung. Pada saat liburan, Pantai Klayar selalu ramai dipadati wisatawan baik lokal maupun luar Pacitan. Bahkan terkadang sering terjadi antrian panjang untuk sekedar masuk lokasi pantai.



Daya tarik utama Pantai Klayar adalah pantainya yang berpasir putih dengan batu-batuan karang yang berpadu dengan batuan karts. Selain itu di Pantai Klayar juga terdapat Seruling Samudera (ocean flute) yang membuat ciri khas tersendiri. Seruling Samudera terbentuk dari ombak yang menerobos dari bawah celah-celah karang. Menyembur ke atas semacam air mancur diiringi suara mirip bunyi seruling.

Tarif Masuknya Pantai Klayar Dewasa: 3.000,- anak: 2.000,-




Pantai Klayar terletak di Desa Sendang Kecamatan Donorojo. Untuk menuju Pantai Klayar jalur yang biasa digunakan pengunjung adalah melalui jalur Gua Gong. Tetapi sebenarnya ada beberapa jalur yang bisa ditempuh untuk menuju Pantai Klayar.

1. Jalur Punung-GuaGong-Klayar

Jalur ini merupakan jalur utama yang biasanya digunakan pengunjung untuk menuju Pantai Klayar. Kondisi jalannya sudah diaspal mulus, dan sudah diperlebar hingga Desa Kalak. Jika dari arah Trenggalek dan Ponorogo, lebih dulu menuju Kota Pacitan. Kemudian dari Kota Pacitan ambil jalur bus jurusan Pacitan-Solo. Bisa juga melalui jalan pintas via jalur Sedeng, tetapi jalur ini khusus untuk kendaraan kecil. Bus besar tidak boleh lewat jalur ini karena jalannya menanjak curam dan banyak tikungan tajam. Lewat jalan pintas ini bisa menghemat jarak sekitar 12 Km. Jalannya pun sudah diaspal mulus dan lumayan lebar.


Baik lewat jalur bus maupun jalan pintas, tujuannya adalah punung. Sampai Pasar Punung lurus terus, melewati POM Bensin dan setelah masjid besar Punung ada pertigaan belok kiri. Jika dari arah Solo ataupun Yogyakarta, ikuti jalan utama menuju Kota Pacitan. Setelah melewati Puskesmas Punung ada pertigaan, belok kanan.


Dari pertigaan Punung ini ikuti jalan utama yang sudah ada penunjuk arah menuju Gua Gong. Sekitar 7 Km kemudian akan sampailah di area wisata Gua Gong. Ada pertigaan, yang kiri menuju Gua Gong, ambil yang lurus menuju Pantai Klayar. Ikuti terus jalan utama, sampai bertemu perempatan Kantor Desa Kalak / Puskesmas Kalak. Di perempatan ini belok kiri, dan setelah melewati Pasar Kalak ketemu pertigaan. Ambil jalan yang kiri, (kalau yang kanan menuju Pantai Buyutan, Pantai Banyu Tibo, Pantai Kijingan dan Pantai Nampu). Ikuti terus jalan tersebut, nanti akan melewati gapura masuk Desa Sendang. Sekitar 300 meter dari gapura ini ada pertigaan, ambil jalan yang ke kanan. (Kalau yang lurus menuju Pantai Ngiroboyo, Sungai Maron, Pantai Watukarung dan Pantai Srau). Dari pertigaan ini terus ikuti jalan utama (penunjuk arah) nanti akan sampai di kawasan wisata Pantai Klayar.






2. Jalur Pringkuku – Maron – Klayar
Jalur ini kebanyakan dipakai oleh pengendara motor. Tetapi terkadang mobil pribadi ada juga yang memakai jalur ini. Jalan di jalur ini ada beberapa titik yang lumayan ekstrem baik tanjakan maupun turunannya. Jika dari arah Kota Pacitan, bisa mengikuti jalur bis Pacitan-Solo, bisa juga melalui jalan pintas via Sedeng. Jika lewat jalur bus, sampai pertigaan Pringkuku belok kiri, jika via Sedeng sampai pertigaan Bulu (pertigaan bertemunya jalur sedeng dengan jalur bus) belok kiri, sekitar setengah km ketemu pertigaan Pringkuku belok kanan. Demikian juga jika dari arah Solo maupun Yogyakarta ikuti jalur utama menuju Kota Pacitan. Sampai pertigaan Pringkuku belok kanan.

Dari pertigaan Pringkuku ikuti terus jalan utama. Jika bertemu pertigaan yang ada patung kuda, ambil yang lurus menurun. Yang kiri ada patung kuda arah menuju Gua Luweng Jaran. Ikuti terus jalan utama arah menuju Desa Dersono. Setelah masuk Desa Dersono jika ketemu pertigaan ambil jalan yang kanan (Kalau yang kiri agak nanjak arah menuju Pantai Watukarung). Dari pertigaan ini lurus terus ikuti jalan, nanti akan ketemu turunan curam. Akhir turunan melewati jembatan di atas sungai.


Nah itu adalah Maron, dari sini kita bisa arung sungai Maron menuju Pantai Ngiroboyo. Setelah ini jalan menyisir sungai maron. Setelah melewati kuburan jalan mulai menanjak curam dan berliku. Sampai akhir tanjakan jalan kemudian ada turunan sedikit, nah disitu ada pertigaan. Ambil yang lurus (kalau kekiri lewat jalan makadam arah menuju PantaiNgiroboyo). Setelah pertigaan ini sekitar setengah kilometer ketemu pertigaan lagi, nah kali ini belok kiri menuju Pantai Klayar, kalau lurus menuju kalak (jalur pulang via Gua Gong – Punung).




3. Jalur Dadapan – Watukarung – Klayar

Jalur ini bisa digunakan jika sebelum ke Pantai Klayar berencana mampir dulu di Pantai Watukarung ataupun Pantai Srau. Dari arah Pacitan Kota ikuti jalur bus jurusan Pacitan-Solo. Sekitar 10 km ada pertigaan Dadapan, belok kiri dan terus ikuti jalan utama. Nanti di wilayah Desa Candi akan bertemu pertigaan dengan penunjuk arah yang kiri menuju Pantai Srau, dan yang ke kanan menuju Pantai Watukarung. Jika tidak berencana ke Pantai Srau maka ikuti jalan menurun arah Pantai Watukarung. Ikuti terus jalan aspal utama maka akan sampai kawasan Pantai Watukarung.


Dari Pantai Watukarung ikuti terus jalan aspal. Awalnya jalannya masih baik, tetapi kemudian berganti dengan jalan aspal yang sudah rusak. Kendaraan roda 2 dan roda 4 masih bisa melewati jalur ini tetapi harus ekstra hati-hati, karena selain rusak kondisi jalan juga sempit. Nanti jika ketemu pertigaan ambil yang lurus. Tak jauh dari pertigaan ini akan ketemu pertigaan lagi, kali ini ambil yang kiri (yang kanan ke arah pringkuku). Nah pertigaan ini sudah ketemu dengan jalur yang dari arah Pringkuku. Dari pertigaan ini selanjutnya ke Pantai Klayar seperti yang sudah dijelaskan di Jalur Pringkuku-Maron-Klayar.




Nah itu berbagai jalur yang bisa ditempuh menuju Pantai Klayar. Jalur utama adalah yang melaluiGua Gong, sedang dua jalur lainnya merupakan jalur alternatif. Jika melewati jalur alternatif usahakan kendaraan dalam kondisi yang prima, mengingat beratnya medan. sumber: info@pacitan

Treking Santai Gunung Lanang di Pacitan

Kabupaten Pacitan terletak di ujung barat daya Provinsi Jawa Timur. Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo di utara, Kabupaten Trenggalek di timur,Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah) di barat. Sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan kapur, yakni bagian dari rangkaianPegunungan Kidul. Tanah tersebut kurang cocok untuk pertanian.

Karena wilayah geografis Pacitan yang di kelilingi pegunungan tersebut, menjadikan potensi wisata Pacitan sungguh bagus. Sebagian besar juga masih alami, salah satu nya yaitu Gunung Lanang ini.

Kota Pacitan dilihat dari Gunung Lanang Desa Punjung Kecamatan Kebonagung. Untuk menuju kota Pacitan ini apabila dari Solo atau Surabaya, bisa naik bis jurusan Pacitan dan turun di terminal. Lalu untuk menuju Gunung Lanang ini bisa melalui jalur Pantulor (Pacitan Tulakan Lorok) dengan menaiki angkutan minibus Jurusan Pacitan-Lorok. Kira-kira 2 km setelah melewati tower TVRI Wonogondo, ada pertigaan belok kanan melalui jalan aspal yang mulai rusak. Ikuti penunjuk arah menuju Desa Punjung. Sampai depan Balai Desa Punjung belok kiri (ada penunjuk arah ke gunung lanang). Ikuti jalan rabat, yang dilanjutkan dengan jalan makadam yang menanjak. Sampai akhir tanjakan kalau ke kiri ada jalan setapak menuju Gunung Batok, kalau ke kanan ada jalan setapak menuju Gunung Lanang. Berikut foto-foto pemandangan Kota Pacitan yang di ambil dari Gunung Lanang.









Bagaimana ?? Apakah anda tertarik ??

Untuk yang tidak mempunyai alat-alat camping, tenang saja di Pacitan sudah ada tempat penyewaannya.

PACITAN ADVENTURE SERVICE
Penyewaan-Penjualan Peralatan Camping
Pemandu Wisata Adventure
Jl. Marsda Iswahyudi Km 0,2 Barean Sidoharjo Pacitan
(GPS: S 8.21084, E 111.08774)
HP: 081 913 081 199 - 085 334 589 913
WhatsApp : 081 913 081 199
BBM : 7F86254D
Menyewakan berbagai peralatan camping seperti tenda, matras, sleeping bag, kompor portable, nesting, bodypack, sepatu gunung, sepeda gunung dengan harga terjangkau.
Tarif sewa per hari:
Tenda dome : Rp. 30.000,-
Matras : Rp. 5.000,-
Sleeping bag : Rp. 10.000,-
Kompor gas portable : Rp. 10.000,-
Nasting : Rp. 5.000,-
Bodypack : Rp. 10.000,-
Sepatu gunung : Rp. 15.000,-
Sepeda gunung : Rp. 50.000,-

Saturday, May 16, 2015

Wisata Curug Cibeureum Gunung Gede Cibodas



Halo traveler...
Cerita traveling kali ini ialah mengenai serunya wisata ke Curug Cibeureum Gunung Gede Cibodas.
Curug Cibeureum berada di kaki Gunung Gede Pangrango atau masuk bagian daerah wisata Taman Cibodas. Curug yang punya arti air terjun ini terletak pada 1.625 meter di atas permukaan laut. Dengan ketinggian segitu, cocoklah untuk treking santai khususnya bagi pemula seperti saya...hahaa.

Berangkaatt...

Pukul 05.30 wib, saya dan teman-teman kumpul terlebih dahulu di depan Roxy Square. Sebagai informasi, kali ini saya berwisata bersama teman-teman kantor dengan total 30orang. Untuk biayanya, kita mengadakan iuran per orang Rp 115.000 cukup murah lah untuk ukuran anak kost seperti saya....hahaa.

Setelah menunggu sekitar hampir 1 jam, kami pun cusss berangkat menuju lokasi. Maklum saja kami harus menunggu teman-teman yang lain karena jarak rumahnya cukup jauh dengan tempat kami berkumpul. Tepat pukul 06.30 wib bis yang kami sewa berangkat. Ahh.. jadi gak sabar pengen segera sampai dilokasi. Berikut foto-foto keseruan kami di dalam bis..







Ditengah-tengah perjalanan kami, tiba-tiba rasa kecewa kami mulai timbul. Karena apa? Jelas karena macetnya luar biasa saat keluar pintu Tol tepatnya di daerah Ciawi. Beberapa menit semua kendaraan tidak bisa gerak sama sekali. Untuk menghilangkan jenuh, beberapa teman lebih memilih turun dari bis untuk sekedar merokok,duduk manis maupun ke toilet.





Macet mulai terurai setelah jalan dibuat satu lajur oleh pihak kepolisian. Walaupun sudah dibuka jadi satu jalur, namun masih saja macet tapi masih mending sih masih bisa jalan pelan. Perjalanan cukup jauh dan macet. Kurang lebih memakan waktu 4 jam. Ketika perjalanan sudah mendekati Puncak Pass, mata akan di manjakan oleh indahnya pemandangan yang begitu mempesona. Udara juga begitu segar memasuki daerah tersebut.

Sampai di Taman Nasional Gunung Pangrango..

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dan macet, akhirnya kami sampai juga di lokasi. Kami berhenti di lokasi parkir bis yang sudah disiapkan. Sebelum naik ke lokasi curug, disarankan makan terlebih dahulu. 







Jarak antara tempat parkir bis sampai dengan pintu gerbang ke gunung gede kurang lebih 500m. Dipintu gerbang nanti kita diwajibkan untuk mengisi nama-nama peserta. Jalan keatas setelah masuk pintu gerbang, berubah menjadi tangga batu yang cukup licin. Disini para pendaki maupun pengunjung diharapkan untuk selalu berhati-hati. Setelah jalan 300 meter ke atas, kita tiba di loket masuk taman nasional. Biaya masuknya Rp 11.000/orang untuk berwisata, termasuk biaya asuransi.






Tujuan kami adalah air terjun Cibeureum, dengan jarak 2,7 km dari loket. Di papan, tertulis beberapa peraturan buat pengunjung antara lain: fisik dan stamina oke, bekal yang cukup, tidak buang sampah, tidak mengganggu satwa, dan tidak merusak tanaman. 

Jarak dari pintu gerbang utama ke Curug Cibeureum cukup jauh juga 2,8 Km estimasi perjalanan 1 jam. Kebayang donk itu jauh gimana,jalananny juga menanjak.. hahaa apalagi saya newbie. Dari pintu gerbang tadi naik 300meter akan berjumpa pos pertama, disana kami didata lagi dan membayar tiket masuk Rp 11.000/orang untuk berwisata, termasuk biaya asuransi. Di sepanjang jalan nanti ada beberapa pos untuk sekedar beristirahat. 

Sepanjang jalan banyak ketemu dengan sesama pengunjung curug Cibeureum dan juga pendaki gunung Gede Pangrango. Nggak sedikit yang bawa anak kecil, dan yang juara adalah banyak cewek-cowok ber outfit kayak mau ke mall. Flat shoes, sendal jepit teplek, bahkan ada yang pake sepatu kulit! Juara banget deh, saya yang pake sepatu olahraga aja masih terasa licin, gimana yang pake alas kaki macem itu? Sepanjang jalan juga banyak terlihat orang nyeker alias jalan kaki, ataupun duduk sambil mengistirahatkan kakinya yang lecet karna sepatu. 






Soal pemandangan, tentu saja keren banget. Udaranya juga seger khas pegunungan. Saat berjalan, kita bakal nemuin beberapa titik, yaitu pos pertama sekitar 30 menit perjalanan. Katanya sih ada pusat informasi dan toilet, tapi entah saya nggak notice ada keduanya, selain plang bertuliskan pos pertama. Kemudian ada pos kedua di dekat Telaga Biru. Airnya berwarna biru kehijauan karena ada ganggang hidup di dalamnya yang bikin warnanya berubah biru. 

2 km 'disuguhi' jalan nanjak dan nafas udah sepotong-potong, rasanya bahagia sentosa alangkah indahnya ketika akhirnya menemukan jembatan panjang yang jalannya mendatar. Akhirnya nggak nanjak lagiii! Jembatan ini terletak di atas Rawa Gayonggong, yaitu cekungan yang terbentuk dari kawah mati, dan didominasi oleh rumput gayonggong. Rawa Gayonggong ini daerah jelajah macan tutul lho! Lalu kenapah aku nggak ketemu macan tutul?

Dari jembatan ini, ketemulah pos ketiga di sebuah pertigaan. Kalo ke kiri, arahnya menuju pendakian Puncak Gunung Gede. Nahh, kalo mau ke curug Cibeureum, tinggal lanjut lurus. Jaraknya masih 15 menit-an lagi. Semangat!














Huhah! Akhirnya ketemu juga sama curug Cibeureum. Curug Cibeureum juga 'tetanggaan' dengan curug Cikundul dan curug Cidendeng. Di antara curug lain di kawasan ini, curug Cibeureum yang aksesnya paling terbuka, jadi paling rame. Tingginya 40an meter di ketinggian 1675 meter di atas permukaan laut. Tak lengkap rasanya bila tak ikut bermain air bersama teman-teman.. hahaa. Seger banget di sini, airnya begitu dingin. 



















Perjalanan turun justru bisa ditempuh kurang dari 1 jam. Saya jalan dengan lancar, nggak pake istirahat, nafas juga teratur. Tapi eh tapi.... kaki yang sekarang jadi nyeri. Batu pijakannya besar-besar da nggak beraturan, jalan yang menurun, bikin saya harus ekstra hati-hati supaya nggak tergelincir, kepeleset, ataupun kesandung. 

Sampai di sini kisah kami.. nantikan cerita seru selanjutnya.. bye..

Recent Post